Tugas Akhir
Pengaruh Ngetam Angkutan Umum (ANGKOT) Terhadap Kinerja Jalan Di kota Wonosobo (Studi Kasus:Ruas Jalan Pemuda,Ruas Jalan A.Yani,Dan Simpang Area Gereja Jawa
Jalan Pemuda, jalan Ahmad Yani dan simpang empat gereja jawa merupakan jalan menuju perkotaan maupun pasar dan banyak digunakan untuk ngetem/parkir angkot di badan jalan. Sebelumnya tidak semua ngetem angkot ada dibadan jalan namun ada permasalahan pasar yang terbakar sehingga harus dipindahkan di badan-badan jalan karena tidak ada tempat parkir angkot, yang mengakibatkan mengganggu kinerja jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja jalan dan melakukan upaya pengoptimalan kinerja jalan.
Metode pengambilan data dilakukan dua tahap, yaitu pengumpulan data primer dilakukan melalui survey lapangan yang meliputi data geomrtrik jalan, data hambatan samping dan data lalu lintas secara langsung dan pengumpulan data yang kedua secara sekunder yaitu didapat dari instansi pemerintah yang terkait meliputi jumlah penduduk kota Wonosobo (BPS Wonososbo) dan data tentang jumlah angkutan umum kota Wonosobo (Dinas Perhubungan). Proses pengolahan dan analisis data menggunakan pedoman Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997).
Berdasarkan penelitian, kinerja ruas jalan Pemuda tahun 2017 pada kondisi eksisting masih memenuhi standar kelayakan lalu lintas, dengan arus lalu lintas sebesar 672 smp/jam dan DS 0,56 ≤ 0,75 dan tingkat pelayanan kelas C yang artinya kondisis arus lalu lintas masih dalam stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi dan hambatan dari kendaraan lain semakin besar. Sedangkan pada kondisi pengoptimalan nilai DS kejenuhan 0,25 dan tingkat pelayanan kelas A yang artinya kondisi arus lalu lintasnya bebas antara satu kendaraan dengan kendaraan lainnya, besarnya kecepatan sepenuhnya ditentukan oleh keinginan pengemudi dan sesuai dengan batas kecepatan yang telah ditentukan. Kinerja ruas jalan A. Yani tahun 2017 pada kondidi eksisting sudah tidak memenuhi standar kelayakan lalu lintas, dengan nilai arus lalu lintas sebesar 998 smp/jam didapat derajat kejenuhan 0,83 ≥ 0,75 dan tingkat pelayanan kelas D yang artinya kondisi arus lalu lintas mendekati tidak stabil, kecepatan operasi menurun relatif cepata akibat hambatan yang timbul, dam kebebasan bergerak relatif kecil. Sedangkan pada kondisi pengoptimalan nilai DS derajat kejenuhan 0,62 ≤ 0,75 dan tingkat pelayanan kelas C yang artinya kondisis arus lalu lintas masih dalam batas stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi dan hambatan dari kendaraan lain semakin besar. Kinerja simpang area gereja jawa tahun 2017 pada kondidi eksisting tidak memenuhi standar kelayakan lalu lintas, dengan DS 0,917 ≥ 0,85 dan tingkat pelayanan kelas C yang didapat dari kapasitas sisa (tundaan untuk lalu lintas jalam minor,tundaan lalu lintas rata-rata), sedangkan pada kondisi pengoptimalan nilai DS 0,80 ≤ 0,75 dan tingkat pelayanan kelas A yang didapat dari kapasitas sisa (tundaan untuk lalu lintas jalam minor,sedikit atau tidak ada tundaan). Hal ini menunjukkan bahwa jalan tersebut memerlukan upaya pengoptimalan kinerja jalan. Berdasarkan alternatif pemecahan masalah yang dilakukan, yaitu dengan relokasi lahan parki untuk angkitan umum Kota Wonosobo, yang direlokasi ke lantai dasar pasar induk Wonosobo agar dapat mempertahankan kelayakan kinerja jalan tersebut.
Penertiban parkir angkutan umum di area pasar induk Wonosobo lantai dasar, sehingga bisa terakomodir, serta memberikan tempat untuk pedagang kaki lima dan memberikan peraturan yang jelas.
Kata kunci: kinerja, tingkat pelayanan, pengoptimalan.
Tidak tersedia versi lain